TUGAS INDIVIDU
ILMU SOSIAL DASAR
“Eksistensi
Budaya Nasional Ditengah Gencarnya Arus Globalisasi”
Disusun Oleh
:
DIEN FIKRY
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
KATA PENGANTAR
Bissmillahirahmanirahim
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu
Puji serta syukur saya panjatkan
kehadirat ALLAH S.W.T yang telah mengijinkan dan memberi nikmat kemudahan
kepada saya dalam menyusun dan menulis makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar yang
berjudul Eksistensi Budaya Nasional Ditengah Gencarnya Arus Globalisasi.
Hal yang paling mendasar yang
mendorong saya menyusun makalah ini adalah tugas dari mata kuliah Ilmu Sosial
Budaya Dasar (ISBD), untuk mencapai nilai yang memenuhi syarat perkuliahan.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan
banyak terimakasih yang tak terhingga dari semua atas bimbingannya sehingga
makalah ini dapat saya selesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Andai ada kekurangan dalam makalah
ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Depok , 10 Oktober 2015
Penulis
NPM
: 11315887
DAFTAR ISI
1) Latar Belakang Masalah
Globalisasi adalah suatu fenomena
khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan
merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi
dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini.
Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan
berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam
upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri
merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan
mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun
terakhir. Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal
masyarakat seluruh dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai
dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu
mengubah dunia secara mendasar. Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak
orang, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata
globalisasi tersebut mengandung suatu pengetian akan hilangnya satu situasi
dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat
bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan terbukanya satu negara
terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga
teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain. Konsep akan
globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara
insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya
koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini penyempitan
dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan intensifikasi
kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara budaya.
Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian
orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan
dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya
menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi
gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi seperti
yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan koneksi
global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai
arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Produksi
global atas produk lokal dan lokalisasi produk global Globalisasi adalah proses
dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu
dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di
belahan dunia yang lain.(A.G. Mc.Grew, 1992). Proses perkembangan
globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini
kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang
politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan
teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat
mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan
terjadi interaksi antarmasyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling
mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah,seperti kebudayaan
gotong royong,menjenguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga
berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya
berpakaian, gaya rambut dan sebagainya
2) Rumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang di atas maka dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut :
a)
Bagaimana hakikat dan tujuan
globalisasi bagi kehidupan masyarakat ?
b)
Apa sajakah faktor-faktor penyebab
terjadinya globalisasi ?
c)
Bagaimana konsistensi dan strategi
negara dalam mempertahankan budayanya untuk menghadapi pengaruh globalisasi ?
d)
Apakah dampak sosial yang sudah
timbul dalam ruang lingkup masyarakat ?
e)
Bagaimana cara kita menyikapi tentang
adanya arus era globalisasi?
3) Tujuan Penulisan
Dari perumusan masalah di atas. Tujuan penulisan
makalah ini sebagai berikut :
a)
Untuk mengetahui hakikat dan
tujuan globalisasi bagi kehidupan masyarakat
b)
Untuk mengetahui faktor-faktor
penyebab terjadinya globalisasi
c)
Untuk mengetahui bagaimana cara
negara untuk mempertahankan ciri budayanya dalam era globalisasi modern ini.
d)
Mengetahui dampak sosial yang sudah
timbul di lingkungan masyarakat dari adanya globalisasi
4) Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah
ini mencakup beberapa diantaranya sebagai berikut :
a)
Mengerti hakikat dan tujuan dari
adanya globalisasi
b)
Mengetahui faktor-faktor penyebab
terjadinya globalisasi yang terjadi di masyarakat.
c)
Memahami masalah dan cara suatu
negara mengatasi pengaruh adanya arus globalisasi agar budaya negaranya tidak
luntur
d)
Mengetahui cara kita menyikapi dari
adanya arus globalisasi
1.
hakikat dan tujuan globalisasi bagi
kehidupan masyarakat
hakikat
globalisasi adalah untuk meningkatkan saling keterkaitan di antara berbagai
belahan dunia melalui terciptanya proses ekonomi, lingkungan, politik, dan
perubahan kebudayaan. Globalisasi merupakan salah satu hal yang harus
dihadapi oleh berbagai bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Sebagai anggota
masyarakat dunia, Indonesia pasti tidak dapat dan tidak akan menutupi diri dari
pergaulan internasional, karena antara negara satu dan negara lainnya pasti
terjadi saling ketergantungan.
Tujuan globalisasi ada tiga
macam, yaitu:
- Mempercepat
penyebaran informasi.
- Mempermudah
setiap orang memenuhi kebutuhan hidup.
- Memberi
kenyamanan dalam beraktifitas.
2.
Faktor-Faktor terjadinya globalisasi
Faktor
pendorong globalisasi adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
yang sangat pesat serta integrasi ekonomi (perdagangan dunia). Sebab-sebab
munculnya globalisasi ada 2 yaitu
sebab yang muncul dari dalam negeri
atau factor intern dan sebab-sebab yang datang dari luar negeri atau factor
ekstern.
1. Factor
intern
Faktor intern munculnya globalisasi adalah:
i.
ketergantungan
sebuah Negara terhadap Negara-negara lain di dunia
ii.
kebebasan pers
iii.
perkembangan
transparansi dan demokrasi dalam pemerintahan
iv.
munculnya
berbagai lembaga politik dan lembaga swadaya masyarakat
v.
berkembangnya
cara berfikir masyarakat dan semakin majunya pendidikan masyarakat
2. Factor
ekstern
Faktor ekstern munculnya globalisasi adalah:
i.
perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat
ii.
penemuan saran
komunikasi yang semakin canggih
iii.
adanya
kesepakatan internasional tentang pasar bebas
iv.
modernisasi
atau pembaharuan di berbagai bidang yang dilakukan berbagai Negara di
belahandunia
v.
keberhasilan perjuangan
demokratisasi di berbagai Negara
vi.
meningkatnya
fungsi dan peran lembaga-lembaga internasional
vii.
kepedulian
masyarakat internasional untuk melindungi dan menegakkan HAM termasuk hak untuk
mendapatkan informasi
Arus
globalisasi yang tidak dapat dibendung lagi telah memberi pengaruh pada
aspek-aspek kehidupan. Pengaruh globalisasi pada masing-masing aspek mempunyai bentuk
yang berlainan.
3.)
konsistensi dan strategi negara dalam mempertahankan budayanya untuk menghadapi
pengaruh globalisasi
3.1 Konsistensi Keberadaan Identitas Nasional dalam
Era Globalisasi.
Globalisasi saat ini bergerak dengan
sangat cepatnya, kemajuan teknologi informasi serta komunikasi menyebabkan
hubungan antara manusia menjadi sangat cepat dan tanpa batas. Setiap orang bisa
berbicara dan bertatap muka dengan berbagai masyarakat dari berbagai belahan
dunia lainnya. Dengan adanya kemajuan dibidang teknologi dan informasi
mempengaruhi keberadaan bidang-bidang lain. Misalnya bisnis, transportasi,
pembangunan, pendidikan, budaya. Pengaruh dari adanya kemajuan ini memudahkan
proses transaksi bisnis dan transportasi maka secara otomatis akan memudahkan
masuknya budaya-budaya asing yang akan mempengaruhi identitas nasional. Dalam
identitas nasional, budaya adalah salah satu faktor penentu jati diri bangsa.
Pada saat ini budaya lokal (daerah) perlahan-lahan mulai berubah dan bahkan ada
bagian-bagian tertentu yang hilang, ini terlihat secara perlahan-lahan
masyarakat cenderung berpikir dan menerapkan budaya nasional dalam tata
kehidupan secara format bisnis yang dibangunnya. Seperti beberapa menu makanan
dan tata budaya lokal mulai terasa asing diterapkan, seperti model keputusan ke
daerah mulai ditinggal dan dipakai format keputusan budaya nasional, padahal
kearifan budaya daerah juga mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan.
Pergeseran ini dapat kita lihat terutama pada masyarakat perkotaan yang telah
mengalami akulturasi dari berbagai budaya, karena masyarakat kota bersifat
heterogen. Contohnya terlihat pada acara-acara pesta perkawinan tertentu yang
diadakan di perkotaan dimana mempelai laki-laki dan perempuan kadangkala
ditemui tidak lagi memakai pakaian adat mereka, namun telah memakai pakaian
yang bergaya barat seperti jas dan gaun. Contoh yang lainnya dapat dilihat
dalam penyelesaian konflik dan proses pengambilan keputusan di masyarakat,
yaitu dalam proses penyelesaian konflik tidak lagi mengedepankan konsep
penyelesaian secara adat, padahal penyelesaian secara adat mampu memberi
pengaruh penguatan rasa persaudaraan. Dari melihat contoh diatas globalisasi
yang masuk ke Indonesia mampu mempengaruhi budaya yang sudah ada.
3.2 Strategi Mempertahankan Identitas Nasional
Dalam arus globalisasi ada begitu
banyak tantangan yang di hadapi oleh berbagai negara, maka ada begitu banyak
pula tuntutan untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi tersebut. Termasuk juga
tantangan dalam mempertahankan jati diri bangsa. Untuk menghadapi hal ini perlu
adanya strategi untuk mempertahankan identitas nasional yang merupakan jati
diri bangsa, diantaranya dengan mengembangkan nasionalisme, pendidikan, budaya
dan Bela Negara.
a. Mengembangkan Nasionalisme
Nasionalisme telah menjadi pemicu kebangkitan kembali dari budaya yang telah memberi identitas sebagai anggota dari suatu masyarakat bangsa-bangsa . Secara umum, nasionalisme dipahami sebagai kecintaan terhadap tanah air, termasuk segala aspek yang terdapat didalamnya. Dari pengertian tersebut ada beberapa sikap yang bisa mencerminkan sikap nasionalisme, yaitu :
1. Menggunakan barang-barang hasil bangsa sendiri, karena bisa menambah rasa cinta dan bangga akan hal yang di buat oleh tangan-tangan kreatif penduduknya.
2. Menghargai perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan bangsa ini, bisa dilakukan dengan beberapa perbuatan misalkan membaca, menonton, mengunjungi hal-hal yang berkaitan tentang sejarah bangsa ini lahir. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan jiwa nasionalisme yang sudah ada dari masing-masing individu.
3. Berprestasi dalam semua bidang misalkan dari bidang olah raga, akademik, teknologi dan lain-lain. Hal ini bertujuan untuk menambahkan rasa bangga dan sikap rela berkorban demi bangsa.
Ada tiga aspek penting yang tidak dapat dilepaskan dalam konteks nasionalisme yaitu :
1. Politik. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghilangkan dominasi politik bangsa asing dan menggantikannya dengan sistem pemerintahan yang berkedaulatan rakyat.
2. Sosial ekonomi. Nasionalisme Indonesia muncul untuk menghentyikan eksploitasi ekonomi asing dan membangun masyarakat baru yang bebas dari kemeralatan dan kesengsaraan.
3. Budaya. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghidupkan kembali kepribadian bangsa yang harus diselaraskan dengan perubahan zaman.
Dengan demikian, mengembangkan sikap nasionalisme (cinta tanah air), akan dengan sendirinya telah mempertahankan dan melestarikan keaslian dari bangsanya, termasuk budaya atau kebiasaan, karakter, sifat-sifat, produk dalam negeri dan adat istiadat masing-masing suku. Dengan demikian, hal ini merupakan sikap yang menjadi salah satu faktor penentu dalam mempertahankan identitas nasional.
Nasionalisme telah menjadi pemicu kebangkitan kembali dari budaya yang telah memberi identitas sebagai anggota dari suatu masyarakat bangsa-bangsa . Secara umum, nasionalisme dipahami sebagai kecintaan terhadap tanah air, termasuk segala aspek yang terdapat didalamnya. Dari pengertian tersebut ada beberapa sikap yang bisa mencerminkan sikap nasionalisme, yaitu :
1. Menggunakan barang-barang hasil bangsa sendiri, karena bisa menambah rasa cinta dan bangga akan hal yang di buat oleh tangan-tangan kreatif penduduknya.
2. Menghargai perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan bangsa ini, bisa dilakukan dengan beberapa perbuatan misalkan membaca, menonton, mengunjungi hal-hal yang berkaitan tentang sejarah bangsa ini lahir. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan jiwa nasionalisme yang sudah ada dari masing-masing individu.
3. Berprestasi dalam semua bidang misalkan dari bidang olah raga, akademik, teknologi dan lain-lain. Hal ini bertujuan untuk menambahkan rasa bangga dan sikap rela berkorban demi bangsa.
Ada tiga aspek penting yang tidak dapat dilepaskan dalam konteks nasionalisme yaitu :
1. Politik. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghilangkan dominasi politik bangsa asing dan menggantikannya dengan sistem pemerintahan yang berkedaulatan rakyat.
2. Sosial ekonomi. Nasionalisme Indonesia muncul untuk menghentyikan eksploitasi ekonomi asing dan membangun masyarakat baru yang bebas dari kemeralatan dan kesengsaraan.
3. Budaya. Nasionalisme Indonesia bertujuan menghidupkan kembali kepribadian bangsa yang harus diselaraskan dengan perubahan zaman.
Dengan demikian, mengembangkan sikap nasionalisme (cinta tanah air), akan dengan sendirinya telah mempertahankan dan melestarikan keaslian dari bangsanya, termasuk budaya atau kebiasaan, karakter, sifat-sifat, produk dalam negeri dan adat istiadat masing-masing suku. Dengan demikian, hal ini merupakan sikap yang menjadi salah satu faktor penentu dalam mempertahankan identitas nasional.
b. Pendidikan Pembinaan jati diri bangsa indonesia dapat dilaksanakan melalui jalur formal maupun informal . Melalui jalur formal jati diri bangsa Indonesia dapat dikembangkan melalui pendidikan. Pendidikan nasional mempunyai peran yang sangat besar didalam pembentukan jati diri bangsa Indonesia. Salah satu kenyataan bangsa Indonesia ialah memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dengan jumlah suku bangsa yang ratusan dengan budayanya masing-masing merupakan kekayaan yang sangat berharga didalam pembentukan bangsa Indonesia yang multikultural. Didalam upaya pembentukan dan mempertahankan jati diri bangsa, peran pendidikan sangat efektif untuk menimbulkan rasa memiliki dan keinginan untuk mengembangkan kekayaan nasional dari masing-masing budaya lokal .
Hal ini sejalan dengan penuturan Syamhalim dalam tulisannya yang ditampilkan di blog-nya bahwa salah satu upaya untuk mengembalikan dan mengembangkan identitas nasional adalah melalui bidang pendidikan. Socrates menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses pengembangan manusia kearah kearifan (wisdom), pengetahuan (knowledge), dan etika (conduct), (Zaim. 2007). Ada dua fenomena mengapa pendidikan adalah yang pertama dan utama .
Pertama, ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yang pertama Sputnic pada 4 Oktober 1957, Amerika Serikat “meradang”. Amerika adalah negara besar dengan kemampuan teknologi yang paling maju merasa didahului oleh Uni Sovyet. Presiden AS ketika itu memerintahkan untuk membentuk special unit. Tim ini tidak berkeinginan untuk menandingi Uni Sovyet, tetapi tugasnya adalah meninjau kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang Pendidikan Dasar sampai tingkat Perguruan Tinggi. Dengan bekerja keras dalam waktu yang singkat tim tersebut berhasil mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulum pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus direvisi.
Amerika pun mulai melakukan pembaharuan pendidikan dalam segala segi dan dimensinya. Mulai dari kurikulum, mata pelajaran, tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai pada sistem evaluasi pendidikan. Usaha mereka dengan sangat cepat membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Pada tanggal 14 Juli 1969 mereka berhasil meletakkan manusia pertama di permukaan bulan. Hanya dalam kurun waktu 12 tahun mereka berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet. Waktu yang relatif singkat, kurang dari masa pendidikan seorang anak dari tingkat dasar sampai jenjang perguruan tinggi. (C. Winfield dan Scoot dalam Zaim. 2007).
Kedua, kejadian yang hampir serupa ketika Jepang telah kalah dalam perang dunia II dengan dijatuhi bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Jepang praktis lumpuh dalam segala sendi kehidupan. Bahkan Kaisar Jepang waktu itu menyatakan bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah dan air. Namun sang Kaisar langsung memanggil pucuk pimpinan dan bertanya: berapa orang guru yang masih hidup?. Sebuah pertanyaan sederhana tapi mengandung makna bahwa pendidikan adalah awal segalanya.
Dua fenomena diatas merupakan gambaran nyata dari urgensi pendidikan yang telah dipahami dan diaplikasikan dengan baik oleh AS dan Jepang. Langkah yang mereka ambil telah membuktikan kepada dunia bahwa kemajuan pendidikan berarti kemajuan sebuah bangsa. Dan bangsa manapun di dunia ini yang mengabaikan pendidikan maka akan mengalami kehancuran dari bangsanya.
Di Indonesia, jauh sebelum Bung Karno menggagas konsep kemerdekaan Indonesia, elemen bangsa yang berbasis pendidikan seperti R.A. Kartini, HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo, Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara, sudah memikirkan bangsa ini lewat pendidikan. Tidak lama berselang giliran KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi sosial dan kependidikan dengan nama Muhammadiyah. Lewat satu Dekade berikutnya KH. Hasyim Asy’ari ikut mencerdaskan bangsa dengan NUnya. Semua bermuara pada pendidikan. Hasilnya, semua orang terdidik mulai memikirkan bangsa dan berusaha lepas dari penjajahan .
Dari uraian di atas nampak adanya keterkaitan antara pendidikan dengan kemajuan suatu bangsa. Warna pendidikan adalah warna suatu bangsa. Identitas nasional yang dikembangkan melalui pendidikan diharapkan akan memberi harapan positif bagi kemajuan bangsa ini untuk mempertahankan karakteristiknya sebagai sebuah bangsa yang beradab, bangsa yang santun, bangsa yang toleran, bangsa yang menghargai perbedaan dan bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Pemantapan identitas nasional melalui dunia pendidikan hendaknya tidak dilakukan setengah hati dan parsial. Transformasi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang memacu tumbuhnya identitas dan jatiri bangsa perlu sinergi dari pihak-pihak yang berkompeten di dunia pendidikan terutama guru yang bersentuhan langsung dengan siswa, dan yang perlu diperhatikan adalah bahwa tugas ini tidak hanya menjadi tugas guru mata pelajaran tertentu saja misalnya Pendidikan Kewarganegaraan, tetapi juga semua guru mata pelajaran dengan pendekatan sesuai karakteristik mata pelajaran yang diampuh. Melalui dunia pendidikan dapat ditanamkan identitas nasional kepada generasi muda yang merupakan miniatur masyarakat masa depan.
c. Pelestarian Budaya
Seseorang yang di sebut berbudaya adalah seorang yang menguasai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai budaya, khususnya nilai-nilai etis dan moral yang hidup di dalam kebudayaan tersebut . Budaya merupakan salah faktor penentu jati diri bangsa. Pada pengertiannya, budaya adalah hasil karya cipta manusia yang dihasilkan dan telah dipakai sebagai bagian dari tata kehidupan sehari-hari . Suatu budaya yang dipakai dan diterapkan dalam kehidupan dalam waktu yang lama, akan mempengaruhi pembentukan pola kehidupan masyarakat, seperti kebiasaan rajin bekerja. Kebiasaan ini berpengaruh secara jangka panjang, sehingga sudah melekat dan terpatri dalam diri masyarakat. Namun pada kenyataannya budaya indonesia sekarang ini mulai menghilang karena pengaruh budaya asing yang masuk ke indonesia, untuk itulah perlu adanya pembangunan kembali jati diri dan budaya bangsa dan Negara, ada dua hal utama yang harus dilakukan :
1. Merevitalisasi kedaulatan politik, ekonomi dan budaya agar berada pada jalur yang benar sesuai dengan hakikat bangsa yang merdeka sehingga bangsa kita mampu mandiri dan bermartabat.
2. Mendorong political will penyelenggaraan Negara, baik eksekutif maupun legislatif untuk membangun dan menjabarkan kembali nilai-nilai dan semangat kebangsaan di setiap hati nurani rakyat.
Seseorang yang di sebut berbudaya adalah seorang yang menguasai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai budaya, khususnya nilai-nilai etis dan moral yang hidup di dalam kebudayaan tersebut . Budaya merupakan salah faktor penentu jati diri bangsa. Pada pengertiannya, budaya adalah hasil karya cipta manusia yang dihasilkan dan telah dipakai sebagai bagian dari tata kehidupan sehari-hari . Suatu budaya yang dipakai dan diterapkan dalam kehidupan dalam waktu yang lama, akan mempengaruhi pembentukan pola kehidupan masyarakat, seperti kebiasaan rajin bekerja. Kebiasaan ini berpengaruh secara jangka panjang, sehingga sudah melekat dan terpatri dalam diri masyarakat. Namun pada kenyataannya budaya indonesia sekarang ini mulai menghilang karena pengaruh budaya asing yang masuk ke indonesia, untuk itulah perlu adanya pembangunan kembali jati diri dan budaya bangsa dan Negara, ada dua hal utama yang harus dilakukan :
1. Merevitalisasi kedaulatan politik, ekonomi dan budaya agar berada pada jalur yang benar sesuai dengan hakikat bangsa yang merdeka sehingga bangsa kita mampu mandiri dan bermartabat.
2. Mendorong political will penyelenggaraan Negara, baik eksekutif maupun legislatif untuk membangun dan menjabarkan kembali nilai-nilai dan semangat kebangsaan di setiap hati nurani rakyat.
Selain pembangunan diatas, pembangunan dalam
bangunan-bangunan budaya seperti rumah adat, dan lain sebagainya juga perlu
diperhatikan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia.
Dengan demikian, jelaslah bahwa dengan melestarikan budaya bangsa, dapat
memperkokoh identitas nasional itu sendiri karena dalam setiap pelaksanaan
nilai-nilai budaya, masyarakat akan lebih cenderung melekat dan menyatu dengan
budaya yang dianutnya, selain itu juga dengan adanya keeratan dari buday ayang
ada dapat membawa nama bangsa indonesia menjadi harum, dalam arti membawa
budaya indonesia ke mancanegara atau memperkenalkan budaya yang ada ke negara
luar.
d. Bela
Negara Pasal 27 ayat 3 UUD 1945 berbunyi : setiap warga negara berhak dan wajib
ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Dari bunyi pasal tersebut menunjukkan
bahwa bela negara merupakan hak dan sekaligus kewajiban bagi setiap warga
negara, ini membuktikan bahwa bela negara juga menjadi suatu aturan agar setiap
warga negara harus melakukan tindakan bela negara demi ketahanan dan eksistensi
sebuah negara. Pada zaman penjajahan bela negara diartikan dengan cara
mengikuti wajib milter agar dapat membertahankan negara indonesia. Namun,
seiring berjalannya waktu ketika bangsa indonesia berhasil mengalahkan para
penjajah dan merdeka, konsep bela negara berbuah dalam arti tidak tertapaku
lagi harus mengikuti wajib iliter. Zaman sekarang ini, setiap orang dapat
melakukan bela negara dengan caranya masing-masing, menurut profesinya atau
pekerjaannya. Dalam konsep bela negara diinterpretasikan secara labih luas lagi
sehingga meliputi segala bidang dalam kehidupan bernegara. Dalam upaya
pembelaan negara ini, dilakukan secara terpadu dan disadasarkan atas kecintaan
terhadap tanah air dan bangsa. Misalnya, dalam bidang kesehatan seorang dokter
menekuni preofesinya dengan sungguh sehingga dapat membuat ia menjadi dokter
yang handal bukkan hanya di Indonesia namun juga di luar negeri. Adapun contoh
yang lain dala dunia pendidikan siswa belajar dengan rajin dan kemudian
mengikuti lomba di tingkat internasional dan dapat meraih juara. Dari berbagai
sikap yang dilakukan oleh warga negara sebagai rasa cinta terhadap negara dan
pembelaan negara ini dapat mengharumkan nama bangsa indonesia. Dengan
sendirinya juga setiap warga negara sudah memberikan sumbangsi terhadap
ketahanan nasional dan eksistensi dari pada identitas nasional.
4) Dampak dari
adanya Globalisasi
Sebagai contoh dampak dalam Perkembangan Komunikasi, Elektronik, dan
Medianya.
Di masa yang sudah dapat dikatakan sangat modern ini, elektronik pun sudah tak dapat hidup jauh dari kita. Namun, perkembangan itu menimbulkan banyak dampak yang merugikan remaja, diantaranya:
Di masa yang sudah dapat dikatakan sangat modern ini, elektronik pun sudah tak dapat hidup jauh dari kita. Namun, perkembangan itu menimbulkan banyak dampak yang merugikan remaja, diantaranya:
1. Pola hidup konsumtif
Perkembangan industri yang pesat menyebabkan penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu, masyarakat terutama kalangan remaja untuk mudah tertarik mengkonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.
Perkembangan industri yang pesat menyebabkan penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu, masyarakat terutama kalangan remaja untuk mudah tertarik mengkonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.
2. Sikap individualistik
Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju menyebabkan mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktifitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.
Perkembangan Etika dan Budaya
Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju menyebabkan mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktifitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.
Perkembangan Etika dan Budaya
Siapa sangka etika remaja masa kini jauh lebih baik dengan remaja masa
lalu? Ternyata itu memang benar adanya, hanya sedikit dari kalangan remaja yang
benar-benar menerapkan sikap sopan dan santun di lingkungannya, baik kepada
yang lebih tua maupun kepada yang lebih muda. Berikut ini saya berikan beberapa
buktinnya:
1. Gaya hidup kebarat-baratan
Tidak semua budaya barat baik dan cocok diterapkan di
Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak
lagi hormat pada orang tua, kehidupan bebas remaja dan lain-lain. Hampir 50%
dari remaja dunia terutama kaum perempuan, sudah kehilangan mahkota paling
berharga miliknya. Dan 80% sudah berani mencoba dan menggunakan obat-obatan
terlarang (narkotika). Itulah yang sangat kita sayangkan dari remaja kini, yang
seharusnya mereka menjadi peran penerus pahlawan bangsa.
2. Semakin lunturnya nilai-nilai politik yang
berdasarkan semangat kekeluargaan
musyawarah mufakat, dan gotong royong.
3. Semakin sedikit generasi muda yang melestarikan
musik, tarian, dan budaya tradisional kita.
4. Remaja mengikuti cara berpakaian yang cenderung
tidak memperlihatkan kesopanan.
5.) cara-cara
menghadapi era globalisasi
1. menyaring budaya-budaya asing yang masuk ke negara kita harus yang sesuai dengan kepribadian bangsa.
2. mencintai atau membeli produk dalam negeri sendiri.
3. meningkatkan produksi dalam negeri agar dapat bersaing dengan produksi negara-negara maju.
4. berusaha mengikuti perkembangan iptek.
5. tidak bergaya hidup bermewah-mewahan.
6. meningkatkan iman dan takwa pada Tuhan YME.
1. menyaring budaya-budaya asing yang masuk ke negara kita harus yang sesuai dengan kepribadian bangsa.
2. mencintai atau membeli produk dalam negeri sendiri.
3. meningkatkan produksi dalam negeri agar dapat bersaing dengan produksi negara-negara maju.
4. berusaha mengikuti perkembangan iptek.
5. tidak bergaya hidup bermewah-mewahan.
6. meningkatkan iman dan takwa pada Tuhan YME.
1)
Kesimpulan
Pengaruh globalisasi disatu sisi
ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia .
Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia perlahan-lahan
mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interinsik yang
diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada
akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia. Radhakrishnan dalam
bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan “untuk pertama
kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah
menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan
tidak pernah lagi terpisah. Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak
ada lagi perbedaan. Atau dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan
kebudayaan asing. Apabila timur dan barat bersatu, masihkah ada ciri khas
kebudayaan kita? Ataukah kita larut dalam budaya bangsa lain tanpa meninggalkan
sedikitpun sistem nilai kita? Oleh karena itu perlu dipertahanan aspek sosial
budaya Indonesia sebagai identitas bangsa. Caranya adalah dengan penyaringan
budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa. Bagi masyarakat
yang mencoba mengembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan
modern, tentu akan terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang masih
berpolakan masa lalu untuk dijadikan komoditi yang dapat dikonsumsi masyarakat
modern. Karena sebenarnya seni itu indah dan mahal. Kesenian adalah kekayaan
bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa
asing. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, yang merupakan pewaris budaya
bangsa, hendaknya memelihara seni budaya kita demi masa depan anak cucu.
2)
Saran – saran
Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat memberikan
gambaran dan menambah wawasan kita tentang Pengaruh Globalisasi serta
perkembangannya dari waktu ke waktu, lebih jauhnya penyusun berharap dengan
memahami kebudayaan kita semua dapat menyikapi segala kemajuan dan
perkembangannya sehingga dapat berdampak positif bagi kehidupan kita semua .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar